Senin, 25 November 2013

Ya Allah Izinkan Dia Untukku

Kuserahkan penjagaannya pada Mu ya Allah. Karena kepadaMU lah hamba berserah diri Selagi dia belum halal untukku. Selagi dia masih menjadi asing bagiku…

Perjumpaan yang tidak sengaja, pertemuan yang tak direncanakan, dan pandangan yang mencuri-curi menjadi sebab munculnya paras indah di mata kita. Memang sih bisa saja itu semua kesalahan kita. Semoga Allah mengampuni dan memaafkan kita atas kesalahan-kesalahan massal itu.

Akhirnya hati pun yang tak kuasa untuk menanggung beban. Dahsyatnya fitnah rindu pada bayangan yang melenakan hati dan pikiran. Inginnya segera memiliki tapi aral melintang bertubi-tubi. Masih kuliah, kerjaan belum mapan dan seabrek alasan yang menggiring pada keputusan pending hingga tak tentu kapan.

Sementara geliat bisikan hati bertalu talu menggebu-gebu. Mengipas-ngipas hati menjadi gemuruh keinginan yang luar biasa terasakan.

Hanya ada lantunan bait doa yang indah untuk dia yang masih jauh tersentuh. Tak mungkin hati akan menyentuhnya karena dia bukanlah sosok halal untuk kita. Tapi alangkah sayangnya bila dia harus bersanding dengan orang lain dan bukan dengan kita sebagai pengagumnya.

Hati menggemas saat diri tak mampu mempercepat langkah. Seakan ingin segera meloncat dari sekian tahapan yang sudah ditentukan. Seakan tak sabar ingin segera melamarnya menjadi bidadari cinta yang mengisi ruang ruang jiwa. Tapi entah kenapa semua hanya angan angan belaka. Dia masih terlalu jauh untuk direngkuh, hanya bermodal mimpi dan cita cita yang belum terwujud. Masih menjadi bintang di langit yang tinggi menjulang. Sehingga sangatlah susah untuk didapatkan.

Tak kuasa tangan mendapatkan, tidak berarti mulut berhenti komat-kamit mendoakan. Aku akan doakan dia bahagia dalam penantian. Apakah aku yang dinanti atau siapa saya yang berani melamar dia menjadi pasangan hidup. Aku hanya memohon kepada Allah agar dia selalu dalam penjagaanNya. Dikuatkan hati dan imannya. Disabarkan hati dan jiwanya, bukan untuk semata menungguku. Tapi semata untuk beribadah kepada Allah dengan mendapatkan pasangan paling takwa yang dia inginkan.

Aku juga selalu memohon kepada Allah untuk selalu menyayanginya. Meluaskan hati dan perasaannya untuk memaafkan segala dosa dan kesalahan yang pernah menerpa dirinya. Melonggarkan hati untuk selalu memaklumi ketidakmampuan yang datang dariku dan dari orang orang yang lainnya.

Tapi semuanya memang tidak mudah. Mengangan-angankan sosok yang sudah telanjur menempel di hati. Lekat seperti lem super yang susah sekali dilepas. Kalaupun dilepas maka akan meninggalkan luka mendalam dan susah untuk dikeringkan. Kalau saja mengusir perasaan semudah mengusir ayam dari halaman rumah, pasti sudah pergi namamu di hatiku. Kalau seandainya melupakanmu semudah melupakan hutang-hutangku maka mungkin sudah kulakukan sejak dulu pertama aku mengenalmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar